Pernah nggak sih lagi santai malam-malam, lampu teras nyala, eh tiba-tiba udah dikerubungin serangga? Ada laron, ngengat, capung kecil, sampai nyamuk yang muter-muter nggak jelas di sekitar bohlam. Kadang sampai bikin risih, apalagi kalau sampai masuk rumah dan nyasar ke makanan atau lampu kamar tidur.
Nah, kalau kamu pernah kepikiran “kenapa sih serangga-serangga ini kayak nggak bisa move on dari cahaya lampu?”, kamu nggak sendirian. Ini pertanyaan yang sebenarnya udah lama bikin penasaran para ilmuwan juga. Yuk kita bahas tuntas, biar sekalian tahu cara ngatasinnya.
Fenomena Ini Punya Nama: Fototaksis Positif
Dalam dunia biologi, kebiasaan serangga mendekati sumber cahaya ini disebut fototaksis positif. Simpelnya, fototaksis itu istilah untuk perilaku makhluk hidup yang bergerak merespons cahaya. Kalau “positif”, artinya mereka bergerak mendekati cahaya. Sebaliknya, ada juga fototaksis negatif, yaitu perilaku menjauhi cahaya, biasanya dimiliki serangga yang lebih suka tempat gelap dan lembap seperti kecoa atau kaki seribu.
Jadi bukan berarti semua serangga suka cahaya, ya. Tapi buat yang memang tertarik cahaya, seperti laron, ngengat, dan berbagai jenis kumbang, dorongan mendekati lampu ini sudah tertanam secara alami dalam sistem sarafnya.
Tapi Kenapa Bisa Begitu? Ini Teori-Teorinya
Menariknya, sampai sekarang para peneliti sebenarnya belum sepenuhnya sepakat soal alasan pastinya. Tapi ada beberapa teori yang paling banyak diterima dan masuk akal secara ilmiah.
1. Serangga Menganggap Cahaya Lampu Sebagai “Bulan atau Bintang”
Ini teori yang paling populer. Selama jutaan tahun sebelum ada lampu buatan manusia, serangga malam mengandalkan cahaya bulan dan bintang untuk bernavigasi. Caranya, mereka menjaga sudut tetap terhadap sumber cahaya yang jauh itu supaya bisa terbang lurus.
Masalahnya, bulan dan bintang itu jaraknya jauh banget, jadi sudut cahayanya nyaris nggak berubah meski serangga terbang jauh. Nah, begitu ada cahaya buatan yang jaraknya deket, seperti lampu rumah, serangga tetap coba pakai “trik navigasi” yang sama. Karena sumbernya deket, mereka jadi harus terus-menerus membelokkan arah terbang biar sudutnya tetap sama terhadap cahaya. Efeknya, mereka malah terbang berputar-putar mengelilingi lampu, bukannya lurus seperti biasanya.
2. Cahaya Dianggap Jalan Keluar atau Ruang Terbuka
Ada juga teori yang bilang bahwa serangga secara naluri menganggap arah paling terang sebagai arah menuju langit atau ruang terbuka yang aman. Ini semacam mekanisme bertahan hidup, karena di alam liar area yang gelap biasanya berarti ada halangan, semak, atau bahaya predator, sedangkan area terang biasanya ruang terbuka.
3. Sistem Saraf Serangga Bisa “Kewalahan”
Penelitian terbaru, termasuk yang dipublikasikan oleh tim dari Imperial College London, menemukan bahwa serangga sebenarnya nggak sengaja terbang menuju lampu. Yang terjadi, mereka kehilangan orientasi terbang normal karena cahaya buatan mengganggu sistem keseimbangan mereka. Biasanya serangga menjaga posisi punggung menghadap ke arah cahaya (seperti langit) untuk tahu mana atas dan mana bawah. Ketika ada cahaya kuat dari bawah atau samping seperti lampu rumah, sistem ini jadi kacau, dan mereka pun terbang nggak beraturan di sekitar sumber cahaya tersebut.
Kenapa Laron Paling Suka Ini?
Nah, kalau ngomongin serangga dan cahaya, laron sepertinya juara satu yang paling sering bikin gerah. Laron sebenarnya adalah rayap dewasa bersayap yang keluar dari sarang saat musim kawin, biasanya di awal musim hujan. Mereka keluar beramai-ramai dan sangat tertarik pada cahaya karena dorongan fototaksis positif tadi digabung dengan naluri mencari pasangan dan lokasi sarang baru.
Masalahnya, kalau laron sampai masuk rumah dan berhasil membentuk koloni baru, ini bisa jadi awal dari masalah yang jauh lebih besar: serangan rayap yang diam-diam merusak struktur kayu dan bangunan rumah kamu. Jadi kalau kamu sering lihat laron berkerumun di lampu rumah, apalagi berulang di musim yang sama, ini sebenarnya sinyal yang jangan diabaikan.
Cara Sederhana Mengurangi Serangga Berkerumun di Rumah
Kabar baiknya, ada beberapa langkah gampang yang bisa kamu coba di rumah:
- Ganti ke lampu warna kuning atau oranye (warm light). Serangga jauh lebih tertarik pada cahaya spektrum biru dan ultraviolet dibanding cahaya kuning hangat.
- Pindahkan sumber cahaya sedikit menjauh dari pintu dan jendela, misalnya pakai lampu tiang di taman supaya serangga tertarik ke sana, bukan ke pintu masuk rumah.
- Pasang kasa nyamuk di ventilasi dan jendela supaya serangga yang datang nggak bisa masuk ke dalam.
- Matikan lampu yang nggak perlu di malam hari, terutama saat musim laron atau musim hujan.
- Cek celah dan retakan di dinding atau kusen, karena ini sering jadi jalan masuk favorit serangga kecil.
Kalau Sudah Jadi Serangan Serius, Saatnya Waspada
Serangga yang sesekali mampir karena tertarik cahaya itu wajar dan biasanya nggak berbahaya. Tapi kalau kamu mulai lihat laron muncul dalam jumlah banyak dan berulang, sayapnya berserakan di lantai, atau bahkan mulai muncul tanda kerusakan di kayu rumah, itu bisa jadi indikasi ada koloni rayap aktif di sekitar rumahmu.
Di titik ini, langkah paling aman adalah memeriksakan kondisi rumah ke jasa profesional yang memang berpengalaman menangani rayap, bukan cuma mengandalkan semprotan serangga biasa yang sifatnya cuma mengatasi gejala di permukaan.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah semua serangga suka cahaya? Tidak. Hanya sebagian serangga yang punya sifat fototaksis positif, seperti laron, ngengat, dan beberapa jenis kumbang. Serangga lain seperti kecoa justru menghindari cahaya.
Kenapa laron muncul banyak sekali saat musim hujan? Karena musim hujan adalah waktu ideal bagi laron untuk terbang keluar sarang, kawin, dan mencari lokasi baru untuk membentuk koloni. Kelembapan tinggi juga mendukung kelangsungan hidup mereka di luar sarang.
Apakah laron yang berkerumun di lampu berarti rumah saya pasti kena rayap? Belum tentu pasti, tapi ini sinyal yang perlu diperiksa lebih lanjut, apalagi kalau terjadi berulang di lokasi yang sama setiap musim.
Kesimpulan
Jadi, kenapa serangga suka cahaya sebenarnya bukan karena mereka “kesasar” tanpa alasan, tapi karena sistem navigasi alami mereka jadi kacau saat berhadapan dengan cahaya buatan manusia. Buat serangga biasa, ini cuma bikin sedikit ribet. Tapi khusus untuk laron, fenomena ini bisa jadi pertanda awal masalah rayap yang lebih serius di rumah kamu.
Butuh Penanganan Hama di Jabodetabek dan sekitarnya?
Gucimas Pratama menyediakan layanan konsultasi dan survei termite dan pest control gratis terutama untuk Anda yang baru saja membeli properti di area Tangerang Selatan. Tim teknisi pest control profesional kami siap memberikan solusi terbaik untuk memastikan ketenangan pikiran Anda sebagai pemilik rumah baru. #BebasHamaNoDrama
Baca Artikel Lainnya